Mulai Ada Perempuan Menunda Kehamilan Agar Anaknya Punya Zodiak ‘Bagus’

  • 3 min read
  • Sep 15, 2021
Mulai Ada Perempuan Menunda Kehamilan Agar Anaknya Punya Zodiak 'Bagus'


Tren perempuan Menunda Kehamilan Agar Anak mereka Punya Zodiak ‘Bagus’

Ilustrasi oleh Cathryn Virginia | Foto via Getty Images

Mackenzie Warren, perempuan Aquarius di usia kepala tiga, mengaku dia dan suami berharap bisa punya anak berzodiak Scorpio supaya mirip sang ayah. Pasutri di North Carolina, AS melepas alat kontrasepsi begitu mereka mendekati ambang untuk mengandung anak Scorpio, tapi putri mereka lahir lebih cepat dengan zodiak Libra.

“Kami menunda sebulan dengan harapan menghindari Pisces,” tutur Warren, mengungkapkan mereka berdua kurang akur dengan Pisces. Mereka sukses di kehamilan kedua. Putranya terlahir sebagai Aquarius seperti sang ibu.

Tidaklah mudah membesarkan anak di dunia yang berbahaya dan penuh ketidakpastian. Alhasil, banyak orang rela melakukan segalanya demi mengusir ketakutan dan membuat pengalaman mengurus anak lebih mudah. Salah satu caranya yaitu menentukan zodiak calon buah hati.

“Calon orang tua menghadapi banyak tekanan. Mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anak, tapi mungkin merasa sebagian besar berada di luar kendali mereka,” tutur Aiyana Willard, dosen psikologi Universitas Brunel London yang meneliti evolusi budaya agama dan keyakinan supernatural. “Orang sangat tidak nyaman dengan ketidakpastian ini, terutama ketika taruhannya tinggi—seperti kesuksesan masa depan dan kesejahteraan anak.”

Menurutnya, orang tua akan merasa seperti memegang kendali jika mengatur zodiak anak mereka.

Berhubung kesuburan sulit diprediksi, orang tua tidak berupaya mendapatkan satu zodiak tertentu; alih-alih, mereka berharap bayinya lahir pada masa transisi (cusp) menuju satu zodiak. “Bayi saya rencananya lahir pada cusp Leo dan Virgo. Saya melakukan segala macam ritual supaya melahirkan seorang Leo yang santai,” kata Kimberly Miller, peneliti kesehatan masyarakat terkait kanker yang berzodiak Aquarius. Perempuan yang berbasis di Los Angeles lahir dari seorang “anal Virgo”.

Dia mencintai ibunya, tapi berharap memiliki anak dengan kepribadian lebih santai. Orang berzodiak Virgo kerap dicap perfeksionis obsesif. Miller mulai gelisah menjelang hari persalinan. Tampaknya sang anak tidak mau lahir saat musim Leo yang berlangsung dari 23 Juli hingga 22 Agustus.

Meski orang skeptis dengan astrologi sekali pun, beberapa tetap memikirkan zodiak yang bagus untuk anaknya buat berjaga-jaga. Perempuan Aquarius bernama Barbara VanDenburgh di Phoenix, Arizona, berandai-andai misalkan dia melahirkan suatu saat ini, dia akan memastikan anaknya bukan Virgo.

“Saya tidak bisa menyangkal semua kenalan berzodiak Virgo pernah membuat saya stres, seolah-olah mereka hidup di dunianya sendiri yang tidak bisa saya akses atau pahami,” tutur editor berusia 30-an itu. “Saya tidak religius, tidak percaya hantu dan cenderung berpikir segala hal ada penjelasan rasionalnya. Tetapi secara rasional, berdasarkan bukti: Virgo jauh lebih menjengkelkan daripada zodiak lain.”

Claire Comstock-Gay, alias Madame Clairevoyant, menulis rubrik astrologi untuk The Cut. Dia juga pernah menerbitkan buku Madame Clairevoyant’s Guide to the Stars. Dia beranggapan mengharapkan suatu zodiak tak melulu memberi orang tua rasa kendali dan hasil yang diinginkan. “Ciri-ciri kepribadian yang terkait dengan setiap zodiak dapat diekspresikan dalam berbagai cara—tak semua Leo penuh drama, tak semua Virgo gila kebersihan, dan lain-lain,” ujarnya.

Dia lebih lanjut menjelaskan sulit bagi anak menemukan dan menentukan identitas mereka tanpa arahan orang dewasa yang mencoba menentukan sun sign mereka. “Secara umum, saya rasa lebih bagus jika memberi sentuhan zodiak yang sangat ringan ketika membicarakan tentang anak.”

Willard berpendapat kalian tak perlu percaya astrologi untuk merasakan manfaat emosional darinya. “Kalian tidak perlu terlalu percaya pada efektivitas hasil agar terlihat bermanfaat,” katanya. “Bahkan kesempatan terkecil yang akan bermanfaat bagi calon anak sepadan dengan usaha yang telah dilakukan.”

Semuanya menganjurkan agar orang tua tak terlalu ngotot mengejar zodiak tertentu, bahkan ketika mereka sangat percaya dengan astrologi. “Ke-12 zodiak semuanya bagus. Tak ada zodiak yang lebih baik dari yang lain,” tegas Annabel Gat, penulis rubrik astrologi wargapedia yang akan merilis buku The Moon Sign Guide: An Astrological Look at Your Inner Life. Dia menekankan pendapat dokter jauh lebih penting. “Astrologi cuma buat senang-senang saja,” katanya. Menurut Gat, astrologi tidak bisa dijadikan penentu keputusan medis tanpa masukan dari dokter.

Apabila dokter telah menyatakan proses persalinannya aman pada tanggal dan waktu tertentu, Gat menyebut orang yang percaya astrologi bisa “mengeksplorasi electional astrology (penentuan tanggal terbaik untuk suatu acara)”. Namun, daripada memilih birth chart yang ideal untuk bayi, Gat menganggap lebih etis menggunakan informasi itu secara umum untuk mendorong kelancaran prosedurnya.

Suzanne Degges-White, profesor Northern Illinois University yang berspesialisasi dalam masa transisi seperti perencanaan mempunyai anak, memberikan perspektif lain. “Biasanya ada bias konfirmasi ketika kita membaca karakter zodiak,” ujarnya. “Kita melihat zodiak tertentu memiliki kepribadian yang kita sukai—memiliki tekad kuat, suka bersenang-senang, dan lain-lain—dan kita membayangkan betapa menyenangkan rasanya jika punya anak seperti itu.”

Pada akhirnya, bias konfirmasi dapat berperan menggambarkan anak sebagai lambang dari zodiak tertentu. Georgia Andrews, developer perangkat lunak berzodiak Sagitarius di Tahoe, California, bercerita tentang ibunya yang menjadwalkan kapan akan operasi sesar supaya dia berzodiak Aquarius. “Kalau saya lahir di pagi hari, saya akan berkepribadian mandiri dan beberapa kata sifat lainnya. Jika saya lahir di siang hari, hubungan kami akan dekat dan beberapa hal lainnya,” ujar Andrews. “Ibu memilih pagi hari dan senang dengan pilihannya.”

Andrews menganggap dirinya mandiri dan berkemauan keras layaknya seorang Aquarius. Perempuan berusia 30-an itu mengaku telah membeli kondominium pakai uangnya sendiri, dan hidup mandiri tahun lalu.

Walaupun Andrews menganggap keputusan ibunya sebagai anekdot yang menyenangkan, dia tetap terharu ibu sampai melakukan hal itu demi dirinya. “Ibu pasti melakukannya karena memikirkan yang terbaik untuk saya, dan itu sulit dibantah.”

Follow Angela Lashbrook di Twitter.

Source : wargapedia.com