Mengenang Tradisi Tato Suku Pemburu Kepala Manusia yang Tersisa di India

  • 3 min read
  • Nov 18, 2021
Mengenang Tradisi Tato Suku Pemburu Kepala Manusia yang Tersisa di India



Ketika membicarakan tato, kenangan yang membekas di benak Kanato Chophy amat mengerikan. Tentara India menyerbu rumah warga tengah malam, lalu menyeret paksa para pemuda yang bertato. Suara tembakan dan ratapan sang ibu memecah keheningan malam.

“Di India, ada stereotip orang tatoan pasti pemberontak,” terang antropolog dan peneliti yang mendalami studi India timur laut di Universitas Utkal. “Tato tradisional juga menjadi sasaran.”

Wilayah timur laut India, yang terdiri dari delapan negara bagian, memiliki sejarah konflik yang disertai kekerasan antara tentara dan kelompok pemberontak yang menuntut dibentuknya pemerintahan sendiri. Negara bagian Nagaland merupakan rumah bagi suku Naga, kumpulan dari beberapa suku yang tersebar hingga ke Myanmar. Di dalamnya ada suku Konyak, yang dianggap suku pemburu kepala terakhir di wilayah tersebut. 

Anggota suku ini menyandang reputasi pemburu yang amat ditakuti. Bagi mereka, masalah diselesaikan dengan cara memenggal kepala musuh. Tengkorak kemudian menghiasi tembok balai desa dan rumah sebagai lambang kebanggaan.

Suku Konyak juga terkenal akan tato yang memenuhi wajah dan badan mereka.

“Tato suku Konyak menggambarkan berbagai tahap kehidupan mereka,” jelas Chophy, yang masih keturunan suku Sumi Naga. “Tatonya menandakan berbagai tahap kedewasaan, kepercayaan animisme yang mereka anut, dan lebih penting lagi, tradisi berburu kepala.”

Dalam buku bertajuk The Last of the Tattooed Headhunters, Phejin Konyak menguraikan keterkaitan antara aktivitas yang juga dikenal sebagai pengayauan dan ritual tato. Sehabis perang, pejuang akan menempelkan berlian berwarna ungu terung dan lozenge di sekujur tubuhnya. Tato kemudian ditorehkan menggunakan duri palem yang telah dicelupkan ke tinta merah dari pohon cedar.  

Hanya tinggal beberapa mantan pejuang yang masih hidup sekarang. “Orang-orang ini menjadi penjaga terakhir tradisinya. Tradisi itu akan hilang selamanya bersama kematian mereka,” Phejin, yang merupakan cicit pemburu kepala terkemuka suku Konyak, memberi tahu CNN.

Perburuan kepala manusia secara resmi dilarang negara pada 1960, seiring dengan masuknya agama Kristen di tengah suku Naga. Misionaris Baptis Amerika telah menyebarkan ajaran Kristen di wilayah tersebut sejak awal abad ke-19, dengan bantuan penjajah Inggris yang berkuasa. Bangsa Inggris dan misionaris sering “mengkafirkan” suku Konyak karena berburu kepala. Mereka mulai melarang praktiknya pada 1935. Penyebaran agama Barat memang meningkatkan tingkat melek huruf masyarakat sana. Namun, demi mendidik mereka menjadi “manusia beradab”, para misionaris tak lagi mengizinkan pelaksanaan tradisi kuno, seperti seni rajah. 

“Suku Konyak disucikan hingga menerapkan pola pikir baru, dan ini membuat tradisi berburu kepala dan tato semakin ditinggalkan,” ujar Chophy.

Fotografer yang berbasis di New Delhi, Tania Chatterjee, berkunjung ke Nagaland pada April untuk mendokumentasikan Aoling, festival tahunan suku Konyak untuk merayakan hasil panen. 

“Tak ada satu pun anak muda Konyak di desa Longwa yang bertato,” katanya saat berbicara kepada wargapedia. “Hampir semuanya telah memeluk agama Kristen. Ada gereja hampir di setiap desa.”

Chatterjee menganggap “modernisasi” sangat berperan dalam memudarnya tradisi tato. Kebanyakan anak muda yang ngobrol dengannya mengungkapkan ketakutan mereka didiskriminasi orang kota jika punya tato. Bagi generasi muda, merantau ke kota menjadi satu-satunya cara mendapatkan akses pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik. 

Perbedaannya sangat kentara ketika Chatterjee mendatangi Mon, distrik terpencil yang terletak di sepanjang perbatasan Nagaland-Myanmar. Di sinilah dia bertemu dengan penjaga terakhir tradisi suku Konyak. Desain tradisional bergambar pohon, ikan dan aliran sungai yang telah memudar menghiasi kulit keriput mereka.

“Ketika saya memfoto mereka di balai desa, dikelilingi simbol kebanggaan masa lalu, saya sadar hanya inilah kesempatan saya mendokumentasikan budaya yang telah sekarat,” ungkapnya. “Sebagian besar tetua sudah tidak punya gigi, dan bahkan tidak bisa mengobrol dengan juru bahasa saya.” 

Seniman tato Mo Naga masih keturunan Uipo Naga. Lelaki 36 tahun yang tinggal di distrik Tengnoupal, negara bagian Manipur, berambisi mengangkat kembali pamor tato suku Konyak. “Tidak masalah jika pengayauan dilarang,” tuturnya kepada wargapedia. “Tato kami tak hanya berasal dari situ. Masa kita harus kehilangan tradisi hanya karena orang kulit putih melarang perburuan kepala dan segala hal yang berkaitan dengannya? Tato-tato ini mengekspresikan pandangan hidup kita. Tato jugalah yang membentuk bahasa kita.” 

“Kita perlu melihat budaya dari mata nenek moyang kita sendiri, bukan dari sudut pandang ajaran Kristen,” lanjutnya.

Chophy berpandangan para anggota suku Konyak lah yang berhak menentukan akan melestarikan tradisi tato ini atau tidak. “Beberapa mungkin ingin merantau ke kota, sedangkan yang lain ingin melestarikannya. Kita tidak berhak menghakimi pilihan mereka atau ikut campur di dalamnya.”

Walaupun begitu, Mo Naga tetap tertarik membuat tato suku Konyak diakui secara global. Dia tengah mendirikan “desa tato” di kampung halaman. Tempat ini nantinya menjadi pusat pengembangan lebih lanjut budaya tato, serta memperkenalkan dan melestarikan budaya ini. 

Source : wargapedia.com